Jangan Remehkan Kesehatan Mental Ibu

Semakin kesini, Indonesia semakin banyak  kasus pembunuhan keluarga. Terutama kasus ibu yang membunuh anaknya. Bukan film tapi ini nyata. Ini ADA dan sebenarnya mereka sangat membutuhkan bantuan. Bantuan moriil dan materiil, bukan bantuan memviralkan. Kasus terbaru di 2022, seorang ibu berusia 35 tahun mencoba melakukan pembunuhan kepada 3 anaknya, 2 diantaranya luka-luka dan dilarikan ke Rumah Sakit daerah. setelah di interogasi, si Ibu ingin menyelamatkan anak-anaknya agar tidak dibentak-bentak, tidak merasakan sedih, harus mati agar tidak merasakan sakit seperti yang ia rasakan puluhan tahun.
Dari kasus ini aku semakin setuju dengan pendapat "Anak butuh ibu yang bahagia, bukan yang hanya bisa tertawa".



Menjadi ibu adalah masa transisi, yang mulanya menyayangi diri sendiri, memiliki waktu untuk me-time, istirahat kapanpun tanpa gangguan, semua itu berubah setelah melahirkan. Dimana selalu begadang untuk menyususi si bayi, mengganti popoknya yang sering basah, cucian menjadi banyak karena anggota baru sering pipis dan poop, siang ingin istirahat namun pekerjaan rumah sudah memanggil meminta segera diselesaikan. Fisik lelah karena kurang istirahat, masih disalahkan jika bayinya sering menangis. Maka wajar jika banyak yang mengalami baby blues syndrome, dan kondisi ini bisa lebih parah menjadi postpartum depression jika tidak segera diatasi. Seharusnya, orang-orang sekitar selalu siap siaga mendukungnya bukan malah memberitahu mitos-mitos pasca melahirkan, mengatakan "asimu gak lancar tuh bayimu jadi nangis terus" pada ibu baru yang masih adaptasi dengan bayinya, masih belajar menyusui bayinya, dan masih belajar mengenali bayinya maka akan sangat berbahaya untuk kesehatan mental si ibu. Akibatnya, si Ibu menjadi parno terhadap kesehatan bayi, tidak tega mendengar suara tangisan bayi, dan yang paling parah bisa membuat si Ibu merasa tidak berguna dan gagal menjadi Ibu.

Tak hanya ibu yang baru melahirkan, ibu yang telah memiliki anak lebih dari satu dan telah menikah puluhan tahun pun bisa saja mengalami depresi. Depresi pada ibu biasanya disebabkan karena faktor tekanan ekonomi, konflik dengan pasangan, konflik dengan anak, tidak cocok dengan mertua/ipar. Menjadi ibu itu, sudah berlelah dengan pekerjaan rumah, mengasuh dan mendidik anak, terkadang masih membantu suami mencari rupiah, namun, masih saja ada celah untuk terlihat salah. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna, maka tak apa jika memang menjadi ibu yang masih ada kurangnya, karena anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna, mereka butuh ibu yang bahagia. Jika ibu mengalami stress, penting baginya untuk menenangkan pikiran. Sekadar bercerita pada orang yang tepat (bisa menjaga privasi) sudah bisa meringankan beban meskipun tidak sepenuhnya mengangkat beban tersebut. Sebaiknya, beban di hati, yang biasa kita sebut dengan luka batin, tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Batin yang cacat, luka yang tak kunjung mengering akan menimbulkan suatu penyakit fisik dan psikis. Parahnya, jika luka batin itu terpendam selama puluhan dan mengganggu kesehatan psikis seseorang, akan memberi dampak kepada orang lain. Lantas bagaimana cara menjaga kesehatan mental?

1. Berada di Lingkungan yang Positif

Lingkungan memberi pengaruh besar terhadap kesehatan mental. Bayangkan jika kamu tinggal di lingkungan     yang isinjya tukang ghibah dan tukang nyinyir semua. Pasti nggak nyaman, kan? Lalu bagaimana jika tempat tinggalku memang demikian? Aktiflah di komunitas yang isinya orang-orang positive vibes. Misal, jika kamu muslim kamu bisa ikut halaqah kajian. Mencari kesibukan yang memiliki banyak manfaat, misal ikut aktif di komunitas relawan kemanusiaan. Dengan begitu hatimu tidak terkotori dengan aura negatif dan semakin banyak bersyukur atas nikmat yang telah Allah kasih juga dapat bonus teman yang banyak. Lalu bagaimana jika lingkungan yang negatif itu justru berada di rumah kita sendiri? Masak iya, harus pindah rumah? Hmm.. Sabar, ya. Sekarang coba kita ibaratkan dengan ulang tahun. Biasanya, kalau ulang tahun teman terdekat sukanya ngasih kejutan yaa, dan sebelum dikasih kadonya pasti di prank habis-habisan dulu. Bahkan kadang dibikin sampai nangis dulu. Nah, kira-kira teman yang demikian tuh teman yang sayang sama kita atau yang biasa-biasa aja? Tentu yang sayang sama kita, kan? Nah, sama halnya dengan ujian, itu sebenarnya kamu sedang disayang Allah, kemudian Allah nguji yang endingnya Allah mau kasih hadiah luar biasa-Nya. Pernah dengar tentang, ujian itu justru datang dari orang yang terdekat. Yaa begitulah kiranya, ada yang diuji lewat pasangan yang kurang bertanggung jawab, atau anak yang kurang nurut. Solusinya gimana? Masak iya jadi ibu malah pilih keluar ninggalin rumah? Ibuuuuk, akan ada hadiah tak terduga bagi sesiapa yang bersabar dan ikhlas, tentunya tidak mudah juga ya, butuh latihan terus menerus agar bisa sabar dan ikhlas. Salah satunya latihan kelola napas dan olah pikiran, inhale-exhale, agar moodnya nggak berantakan, serta tidak lupa untuk terus meminta dikuatkan, dimudahkan dan ditemani Allah. Point pentingnya, seorang pakar parenting pernah menyampaikan, "Jika ingin hubunganmu dengan orangtua/mertua, suami ataupun anak baik, ingin akhlaq anakmu baik, maka dekatkan dirimu kepada Allah".

2. Mengakui Diri ini Hanyalah Seorang Hamba

Pengakuan ini sangat penting untuk menjaga kewarasan ibu ya, baik ibu postpartum atau ibu senior, baik yang baru menikah atau sudah puluhan tahun. Sebab dengan pengakuan ini, diri dan hati menjadi lebih ikhlas jika tidak sempurna, tidak bisa menghandle semuanya, dan tidak bisa mendapatkan segalanya baik. Bukankah dengan sadar mengaku "aku hanyalah seorang hamba" maka akan membuat kita selalu menyandarkan segala urusan kepada Allah Ta'alaa? Yassarallah...

3. Berhenti Bergantung Harap pada Makhluk-Nya

Jika dengan mengakui bahwa diri adalah manusia dan manusia adalah hamba. Maka sama posisinya dengan orang lain. Merekapun hanya manusia biasa, tidak memiliki kekuatan untuk dijadikan sandaran. Kalau kata gurunda Sonny Abi Kim, "Berharap pada manusia adalah patah hati yang disengaja". Bagaimana tidak,    seringkali jika kita mulai berharap pada manusia dapatnya hanya sebuah rasa kecewa, bukan?

4. Latihan Napas

Ternyata "Napas adalah Koentji" bukan hanya untuk pesalinan saja, lho. Di keseharian juga perlu lho latihan napas. Gunanya untuk menenangkan hati sejenak jika mendapati sesuatu yang nggak kita sukai. Setidaknya dengan mengelola napas, inhale-exhale, sedikit lebih waras dalam bersikap.

5. Pasrah Bukan Nyerah

Apasih bedanya pasrah dengan nyerah? Pasrah itu sejak awal, sejak memulai ikhtiar maka dipasrahkan hasilnya kepada Allah. Kalau nyerah, usaha gigih kalau gagal terus baru bilang "udah deh ngikut maunya Allah aja". Kalimatnya serupa sih, tapi yang bikin beda di bagian 'niat'nya. Dengan hati yang pasrah sama Allah sedari awal maka akan mudah menemukan kedamaian jiwa.Sebab akan menjadi pribadi yang lebih ikhlas menerima apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah. Enak, enggak enak, susah atau mudah ya harus diterima dan dijalani dengan penuh keimanan.
Loh? Jadi yang depresi itu enggak beriman ya? Imannya lemah ya? Big NO! Depresi merupakan penyakit psikis, tapi bukan berarti gila, loh ya.. Kita nggaktahu kondisi oranglain,  seberapa besar bebannya, seberapa banyak kegiatannya, yang kita tahu cuma orang itu terlihat sehat. Orang yang mengalami depresi, secara fisik memang terlihat sehat dan baik-baik saja makanya banyak dari kita yang mengabaikan mereka. Kadang diajak curhat malah respon kita ngajak adu nasib, "lah mending kamu cuma gitu. Akuuuu??" hisss, padahal mereka hanya ingin di dengar, so, kaum mendang mending minggir dulu deh.

6. Bercerita kepada Orang yang Tepat

"Curhat tuh sama Allah aja" iya itu benar. Namun, adakalanya seseorang membutuhkan orang lain untuk sekadar mendengar keluh kesahnya, tanpa membandingkan masalah, tanpa disudutkan, cukup di dengar saja. Terkadang orang tidak butuh solusi ketika curhat, hanya ingin membuang 'sampah hati' aja. Untuk itu, jika kamu butuh tempat sambat, carilah orang yang tepat agar rahasia dan privasimu aman. Jika kamu ragu menemukannya, kamu dapat mengunjungi psikiater. Ingat, yang konsul sama psikiater bukan berarti gila loh ya, jadi jangan malu, jangan sungkan kalau memang kondisi sudah sangat membutuhkan.

Biar terhindar dari depresi, yuk kenali ciri-ciri seseorang mulai mengalami lelah mental agar bisa fast recovery.

1. Terlalu Banyak Pekerjaan

Orang yang terlalu banyak jadwal kegiatan hingga merasa dikejar-kejar waktu, sehingga menimbulkan lelah fisik yang tidak segera diistirahatkan, menjadi tanda awal mengalami lelah mental, loh. Maka, sekiranya sudah lelah, istirahatlah. Tidak semua harus selesai dengan segera.

2. Mudah Tersinggung

Ciri selanjutnya yaitu mudah tersinggung dengan omongan orang yang sebenarnya tidak ngomongin kamu. Jika kamu mengalami ini, please, segera menepi sejenak dari hiruk pikuk negeri ya. Saatnya kamu meditasi sebentaaaarrr saja. Banyak-banyak minum air putih dan inhale-exhale.

3. Sulit Fokus

Ketika kamu mulai sulit atau bahkan kehilangan fokus, atasi dengan memperbanyak minum air putih dan istirahat sejenak, segera metime juga lebih baik. Sebab itu merupakan salah satu tanda lelah mental loh.

4. Merasa Tidak Berguna

Ciri terparah saat kamu mulai mengalami lelah mental yaitu timbul perasaan tidak berguna, tidak memiliki manfaat & tujuan hidup juga merasa bodoh dalam berbagai hal.

Jika kamu mengalami salah satu dari ciri-ciri diatas segera cari pertolongan ya.
Sekadar metime pun tak apa.

Ohiya, bagi kamu seorang perempuan yang mulai di panggil "Ibu", jaga selalu kesehatan mentalmu. Abaikan suara-suara yang menyakitimu. Kamu berharga, maka jangan izinkan orang lain membuat hatimu terluka. Tidak perlu memenuhi tuntutan mereka untuk menjadi ibu yang sempurna, sebab yang dibutuhkan anakmu adalah ibu yang bahagia.

Dan, bagi netizen yang budiman, yuk kita sama-sama latihan mengelola hati dan lisan agar tidak ada hati lain yang tertusuk oleh omongan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BUKU: "Selalu Sayang; Menyapih dengan Kasih" dari Tentang Anak

Olahraga yang Aman untuk Ibu Hamil

TIPS MENYAPIH DENGAN CINTA & TANPA MEMBOHONGI