Bismillah ....
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Menjadi ibu itu, mulanya aku mengira bahwa aku lah yang mengajarkan sesuatu pada anakku. Tapi ternyata, justru aku yang juga dituntut untuk terus belajar, sambil mengajaknya belajar juga. Di fase awal menjadi ibu, banyak yang menakut-nakutiku tentang proses awal menyusui. Katanya, awal pertama di nen bayi itu sakit banget! Tapi alhamdulillah loh, aku nggak merasakan itu. Ternyata asal pelekatannya benar, menyusui nggak bikin sakit, kok. Cuma, kalau pas udah mayan gede dan mulai banyak giginya, emang ngilu sih. Apalagi si bocil mulai suka iseng ngegigit. Hmmmm ...
Time flies so fast! Nggak nyangka, udah masuk fase sapih aja, padahal kayak baru kemarin tuh ngerasain kontraksi. Aku baru tahu kalau di fase ini, justru berat banget rasanya. Buat diriku sendiri aja berat, apalagi si kecil, udah pasti berat banget karena dia melepas kenyamanan yang selama ini didapatkan.
Apalagi, anakku sangat dekat denganku dan manja banget. ASInya kuat banget, sempat galau gimana ya besok kalau pas menyapih. Aku pun mencari tahu cara-cara menyapih, mayoritas ... termasuk keluargaku juga, menyarankan agar pakai cara oles-oles. Oles-olesin nen pakai gincu merah atau pakai mahoni biar rasanya pahit. Banyak memang yang berhasil menyapih dengan cara ini. Tapi, kemudian aku berpikir, masa iya rasa semelow ini prosesnya cuma gitu aja? Bukannya kalau pakai cara demikian artinya kita malah ngajari anak untuk berbohong? Padahal, perintah menyapih sendiri ada di dalam Al-Quran. Artinya, Allah langsung yang memerintahkan, bukan? Lantas aku berpikir, proses ini terlalu sia-sia kalau dilalui begitu saja tanpa disertai dialog iman. Menyapih ini, waktu yang tepat untuk mengenalkan dan melatih si kecil untuk belajar taat kepada perintah Allah. Masyaa Allah. Tanpa bermaksud riya', (semoga Allah selalu menjaga niat kita) alhamdulillah kami berhasil melewati fase menyapih dengan metode cinta. Prosesnya pun hanya 3 hari. Setelah itu, Ismail benar-benar lepas nen dengan sadar dan bahagia. Masyaa Allah.
Berikut, tips menyapih dengan cinta berdasarkan pengalamanku dengan si kecil;
1. Kurangi Frekuensi Menyusu
Sebelum memulai hari H menyapih, kurangi perlahan frekuensi menyusu. Dari yang awalnya pagi, siang, malam, menjadi siang dan malam. Lalu berkurang lagi karena siang di alihkan untuk bermain, sehingga menyusu hanya pada saat hendak tidur saja.
2. Sounding
Lakukan sounding dengan benar dan tepat sejak awal, sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah:233.
Yang aku soundingkan ke Ismail waktu itu, "Mas, kata Allah di Al-Quran, kalau udah umur 2 tahun, sudah nggak mimik nen. Tapi nggak apa-apa, walaupun nggak mimik nen, tapi mas tetap bisa main sama Ummi, baca buku bareng, bobok di puk-puk Ummi" ... Aku sounding sejak masuk usia 18 bulan. Kalau perlu, bunda bundi bacakan QS. Al-Baqarah ayat 233 terus ke anak, biar tertanam kuat di benaknya kalau ini tuh memang perintah Allah, dan nggak cuma dia aja yang melewati fase ini.
Biasanya, kalau udah mulai di sounding, akan ada perubahan sikap dan perilaku. Anak jadi makin kuat nennya, makin protektif sama emaknya, pokoknya ... mamak nggak boleh hilang dari pandangannya walau sekejap! Dimana ada dia, disitu harus ada emak. Ini wajar, karena bentuk rasa cemasnya akan melepas asi yang mana selama ini memberinya kenyamanan dan ketenangan.
Lalu, apa yang harus ibu lakukan? Sounding, tenangkan dengan mengatakan semua akan baik-baik saja. Proses ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti kita nggak bisa melewatinya. Ajak anak memasrahkan dan meminta pertolongan pada Allah (dengan berdoa) pokoknya, dikit-dikit mintanya ke Allah. Sekalian mengajarkan nilai Tauhid ke anak. Karena di fasenya ini yang butuh dikuatkan adalah fitrah imannya.
3. Niat Mantap Penuh Keyakinan
Awal mula adalah ... Ibu yang harus memantapkan niat. Karena proses ini sungguh mengandung banyak bawang, Bund! Bunda bundi akan dihadapkan dengan wajah-wajah imut nan polosnya yang merengek minta asi. Jaga mood, jaga kewarasan yaa, Bund!
4. Konsisten
Konsisten ini penting banget ya, Bund! Kalau udah niat kuat harus di ikuti konsisten juga. Jangan karena anak nangis kejer berjam-jam lalu hati ibu meleyot dan ngasih nen lagi. Di fase ini memang terasa berat di awal, harus siapkan telinga untuk mendengar rengek tangisnya, juga harus siapkan bahu dan badan yang kokoh buat menggendong untuk menenangkannya.
Awal aku menyapih, masyaa Allah ... nangisnya betaaaaah banget. Nangis 1.5 jam saat hendak tidur siang. Langkah untuk menenangkannya, dengan meminta maaf dan disounding bahwa ini adalah perintah Allah, dan si anak sedang belajar taat untuk pertama kali. Yaitu taat pada perintah Allah untuk berhenti minum ASI di usia 2 Tahun.
5. Read Aloud
Aku sebagai trainer read aloud, menggunakan buku sebagai bentuk visualisasi, agar anak paham bahwa semua anak seusianya mengalami hal yang sama. Sama-sama berat, sama-sama tidak mudah, tapi pasti bisa dengan terus meminta pertolongan Allah. Selalu sisipkan dialog-dialog iman agar fitrah keimanannya terawat. Untuk mendukung read aloud kali ini, aku menggunakan buku Selalu Sayang dari Tentang Anak. Buku itu related banget dengan kisah menyapih. Jadi, anak pun semakin mudah memahami bahwa ini proses yang harus dilaluinya.
Nahhh ... itu tadi beberapa tips menyapih berdasarkan pengalamanku dan Ismail, ya, Bund. Secara hitungan kalender hijriah, aku menyapihnya lebih dari 2 tahun, karena dia lahir pada tanggal 23 Rabiul Akhir dan memulai fase sapih pada tanggal 7 Jumadil Ula. Sementara pada hitungan Masehi, lebih awal 1 minggu dari tanggal kelahirannya.
Kami memulainya di tanggal 21 November 2023, saat itu kami melakukan potong kue sebagai tanda bahwa Ismail sudah masuk usia 2 tahun, jadi soundingku ku lengkapi dengan kalimat "kalau sudah potong kue". Potong kue sebagai peringatan usia ini sah-sah saja dan diperbolehkan selama tidak ada tradisi tiup lilinnya ya, Bund. Yang biasanya setiap di sounding selalu jawab "Ya ya ya", nah, pas lihat ada kue dan dia mulai potong itu kue, sambil di ingatkan usianya 2 tahun dan sudah saatnya lepas ASI, wajahnya berubah menjadi mellow sekali, percayalah ... hatiku sebenarnya nggak tega untuk melanjutkan ini wkwkw.
Di tanggal 21 November, kami memotong kue di siang menjelang sore, tantangannya di malam. Eh ternyata malam sudah kenyang dan bobok sendiri tanpa cari nen. Malam pun terbangun hanya minta air putih.
Tantangan justru datang di tanggal 22 November, seperti yang aku ceritakan tadi, dia menangis 1.5 jam saat hendak tidur siang. Lalu pada malam hari, masih menangis tapi sudah tidak selama siang.
Bangun tidur pagi, aku sapa dengan sebuah apresiasi bahwa Ismail hebat, masyaa Allah, bisa bobok tanpa nenen, belajar jadi anak shalih yang taat sama perinta Allah buat nggak mik nen ya dek? Dia mengangguk sepakat dengan hati yang bahagia.
Pada tanggal 23 November, siang mau bobok masih menangis meminta nen, tapi sudah jauh berkurang, tidak terlalu lama. Malamnya sudah tidak minta nen lagi, cuma minta di elus dan pukpuk. Hanya saja, menjadi overprotective, semuanya maunya sama Ummi, dan hanya menerima bantuan dari Ummi saja. It's Ok, tetap disyukuri progres yang luar biasa ini.
Tanggal 24 November, alhamdulillah biidznillah, sudah tidak baper lagi. Bahkan saat ditanya, "Kalau sudah umur 2 tahun, berarti sudah tidak mimik ...?" lantas ia melanjutkan dengan rasa bangga dan bahagia; Nenen! Sejak itu, kami mengamati sampai hari H 2 tahun di kalender Masehi, dan Alhamdulillah sudah benar-benar lepas ASI.
Huaaa, nggak nyangka panjang banget ceritanya wkwkw. Maaf kalau bikin cape baca, ya! Semoga bermanfaat. Oh iya, pekan depan insyaa Allah aku akan review buku Selalu Sayang, jadi, stay tune ya!
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!
Halo Kak...jadi inget masa-masa menyapih sekitar 3 tahun yang lalu di anak keduaku..sangat memorable dan terkenang sampai selamanya (tapi gak mau diulang sih) hehehehe...proses yang menyenangkan plus bikin haru juga yah Kak :')
BalasHapusBetul Kak Rara, penuh baper dan mellow ibunya hehehe
HapusSampe sekarang aku nyesel menyapih anak sebelum waktunya, karena harus kembali bekerja
BalasHapus